Langsung ke konten utama

Ailurophobia dan Pulau Impian

“Kuingin ke tempat itu, disana bersama dirimu. Ku ingin jiwaku abadi, disana bersama dirimu” – Sparkle Band

Setiap orang yang terlahir di dunia diwarisi oleh segala kelebihan dan kekurangan. Juga dengan segala ciri khas yang telah melekat dalam keseharian yang sebagai bagian dari kepribadian. Dan hanya dianugerahkan pada orang-orang pilihan. Namun bagaimana dengan orang-orang yang ‘memiliki rasa ketakutan berlebihan’? Apakah termasuk sebuah kelebihan atau kekurangan? Ataukah cermin kepribadian? Dan haruskah bangga menjadi orang-orang pilihan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya disebut fobia. Dalam ilmu psikologis bahkan disebut sebagai salah satu masalah kejiwaan. Dalam keseharian kita di lingkungan orang-orang yang bahkan kita kenal, tak jarang dari mereka memiliki ketakutan berlebih terhadap benda-benda atau objek-objek tertentu seperti pada hewan, badut, balon, bahkan buah-buahan. Saya termasuk dari sekian banyak penderita fobia yang ada, terkhusus dalam kelompok Ailurophobia.  

Dalam ilmu kedokteran, Ailurophobia diistilahkan pada orang-orang yang memiliki ketakutan yang berlebih kepada hewan khususnya kepada kucing. Berbuah dari rasa ketakutan berlebih, dampak yang ditimbulkan pun berlebih: seperti stress, takut, panik, jantung berdebar-debar, keringat dingin bahkan nyaris pingsan. Reaksi berlebih pun muncul jika bertemu atau menyadari keberadaan hewan ini, dengan sontak lari terbirit-birit, mencari bantuan dan perlindungan orang-orang sekitar, yang tak jarang harus rela menjadi pusat perhatian serta bahan tertawaan.

Fobia terhadap kucing sudah saya alami dengan jangka waktu yang terbilang tidak singkat, sudah sejak kurang lebih 10 tahun atau sejak saya masih berstatus sebagai siswa sekolah dasar. Seperti kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar atau anak-anak perempuan pada umumnya, ketakutan pada hewan-hewan bisa dibiilang adalah sebuah hal yang wajar. Namun dari ketakutan yang biasa saja itu akhirnya jadi tidak biasa. Saya ingat betul bagaimana teman-teman saya pada saat itu begitu total menjadikan kucing sebagai media mereka untuk menakut-nakuti saya. Dari dengan sengaja melemparkannya, menaruhnya di laci meja sekolah, sampai menirukan suara ngeongan kucing tepat di telinga saya. Teman-teman saya bahkan tidak kapok meskipun saya sudah membuat pengaduan ke guru sekolah dan melihat saya menangis sejadi-jadinya.  Tidak hanya pada diri saya, saya pun yakin jika seorang Napoleon Bunoparte yang merupakan tokoh dunia dan juga seorang Ailurophobia pun pasti memiliki kenangan masa lalu tidak mengenakkan plus tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kucing.

Di Tashirojima - Jepang, terdapat Pulau Kucing yang menjadi objek wisata populer terkenal bagi para pencinta kucing. Jangankan di Jepang, di Indonesia pun terdapat pulau kucing yakni Pulau Dae-dae yang terletak di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang tidak dihuni oleh manusia tapi oleh ratusan ekor kucing. Saya pun berpikir, jika ada ‘pulau kucing’, kenapa tidak ada ‘pulau tanpa kucing’ ? Kenapa tidak ada pulau khusus yang bisa dihuni oleh penderita fobia kucing ? Saya bisa membayangkan bagaimana aman dan tentramnya hidup ketika tidak harus selalu merasa cemas dan was-was berlebih dengan keberadaan kucing. 

Dalam ingin dan mimpi saya, dimana ‘pulau tanpa kucing’ yakni pulau yang tidak terdapat seekor kucing sekalipun, dihuni oleh orang-orang yang hanya memiliki ketakutan khusus pada hewan mamalia tersebut. Terdapat puluhan jejeran rumah dengan pekarangan yang tentu saja tidak akan dilalu-lalang oleh kucing. Rumah-rumah makan menjadi tempat nyaman untuk berlama-lama bersantap makanan tanpa perlu takut karena tidak akan ada yang menyelinap mengambil sisa makanan di bawah meja makan. Sapu dan air digunakan sesuai fungsi dan kebutuhan dan tidak lagi menjadi senjata ampuh pengusir kucing. Toko-toko pernak-pernik menjajakan jualan tanpa embel-embel gambar kucing. Para terapis datang sekali sebulan sampai memastikan orang-orang di pulau ini sembuh total. Sungguh surga dunia impian bagi Ailurophobia.  

Takut bukan berarti tidak suka apalagi membenci hewan kesayangan Rasulullah SAW ini. Namun seandainya benar-benar ada sebuah ‘pulau tanpa kucing’ dan bisa menghapuskan identitas saya sebagai Ailurophobia, yah saya ingin kesana saja. 

#SebulanNgeblogKepo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profesi VS Reguler (hastagKKN)

DAN sumber kegalauan terbesar saat ini, adalah KKN. masih bingung untuk memantapkan hati memilih regular atau profesi ?? insya Allah hasil jajak pendapat dan survey kecil-kecilan ini bisa mengobati perasaan dilematis teman-teman. semoga bermanfaat :))))))))

kakak, minta pendapat ta boleh ?? haha. bagaimana menurut ta ttg KKN reguler dan profesi ?? dan dulu memilih yg mana ?? minta tolong komentar ta', terima kasih banyak
kak uphy – mahasiswi ekonomi unhas: kalau saya regular. seruuuu karena banyak fakultas. kalau profesi kan cuman untuk kesehatan hehe
kak dachan – sarjana kesehatan masyarakat: kalau profesi enak karena banyak teman dari FKM, ada juga yang diajak kerjasama. kalau regular kerja laporannya setengah mati. persamaannya sama-sama punya banyak teman :)
kak udha – mahasiswa teknik arsitek unhas: bagus dua-duanya tapi saya lebih pilih regular. karena punya kenalan baru dengan karakter berbeda-beda apalagi banyak ilmu didapat karena banyak dari jurusan lain. dibandingkan profes…

(mungkin) saya orang arab :D

hahahihihuhuhehehoho~
yang tadi bukan sekali orang-orang mengira-ku keturunan Arab ahahahaha. bu dosen tadi mengira-nya (mungkin) dari nama lengkap ku yang agak ke-arab-an. dan dilihat dari raut wajah pun yang manis dan rupawan, mungkin sih, NGEKS. hidung saya cukup mancung, alis saya cukup tebal, bulu mata saya cukup lentik, mata saya bulat, dan cukup hijab style. ehehehe duarrrrrr :D

memang, dari kecil saya punya sahabat yang keturunan arab. kami selalu bersama-sama, bahkan pernah ada yang kira kami keluarga. sekarang, saya pun punya sahabat yang juga sering bersama, dia pun orang arab, dan saya pernah disangka sepupu oleh keluarganya cpcpcpcp ehehehe. ada lagi, bapak tukang bentorrrr. yang memulai percakapan singkatnya dengan pertanyaan khas logat Makassar, "orang Arab ki dek ?? || yeeee ?? tidak ji juga pak ehehehe || tapi muka' ta kayak orang arab, tapi kita kecil ki' coba besar-besarki' ?? ahahahaha ||*nah loh -_-
sebenarnya, saya lahir di Makassar. tapi orang tua …

Single = Happy ?!

“Mereka bilang sudah saatnya karena usia. Untuk mencari sang kekasih hati. Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku. Pada waktu dan cara yang indah” – Opie Andaresta
Maaf tulisan ini mungkin agak sedikit kebawa perasaan tapi semoga bisa mewakilkan sebagian besar isi hati dan unek-unek tak tersampaikan khususnya bagi perempuan-perempuan.

Saya kelahiran 92, usia sudah seperempat abad. Jujur sampai saat ini saya masih sangat santai jika ditanya soal pasangan, di antara banyak teman-teman seumuran yang sudah menikah bahkan sudah punya anak. Merasa masih sangat muda dan nyaman membuat saya juga merasa baik-baik saja. Karena sikap baik-baik-saja saya ini tidak jarang mengundang kecemasan dan tanda tanya dari keluarga, sahabat sampai rekan kerja. Dan sebenarnya kondisi ini sudah warning juga bagi perempuan-perempuan yang ‘berkepala dua’.
Sentilan pertanyaan dan pernyataan yang menggalaukan juga menyayat hati tidak jarang jadi makanan sehari-hari. Misalnya, saya cukup on sosmed dan cukup sering …