Langsung ke konten utama

‘Kartini’ Masa Kini

Pelajaran sejarah saat zaman sekolahan dulu mengenalkan saya pada salah satu pahlawan perempuan nasional yang namanya dikenang setiap tanggal 21 April. Dialah Ibu Kartini, sang pejuang harkat, derajat dan kedudukan perempuan. Julukan ‘habis gelap terbitlah terang’ yang disandangnya merupakan ‘hadiah’ yang diberikan setelah sukses dengan kisah heroiknya.

Nyatanya, perjuangan beliau akan emansipasi wanita tidak sia-sia. Kini, ‘kartini’ sudah banyak menjelma di segala macam bidang pekerjaan dan profesi. Tidak terkecuali di lingkungan pekerjaan saya, dimana saya bekerja di salah satu rumah sakit yang khusus melayani pasien-pasien ibu dan juga anak. Selain pasien-pasien, mayoritas dari kami (pekerja) juga adalah perempuan. Saya sangat bersyukur bisa berkesempatan untuk bekerja di lingkungan perempuan-perempuan hebat, karena hampir setiap hari saya bisa merasakan energi positif dan semangat kartini dari sesama rekan kerja.

Melirik kerja keras tenaga-tenaga medis: diantaranya dokter, bidan/perawat dan sejawatnya, dimana 24 jam siap melayani orang-orang/pasien-pasien yang datang dengan keluhan beragam. Bukan hanya menyampaikan keluhan, tapi meminta untuk diberikan layanan kesehatan,  dari tindakan, pengobatan sampai pemulihan. Jika dokter berperan sebagai instruktur maka perawat/bidan/sederajatnya adalah eksekutor/pelaksana. Saya sering berdecak kagum melihat betapa amanahnya mereka dalam melaksanakan tanggung jawab, dengan tidak sedikit dari mereka yang sudah berkeluarga dan harus meninggalkan keluarga di jam-jam dinasnya. Dengan berbagai cerita dimana saat salah satu dokter harus menerima telepon tengah malam untuk laporan pasien yang sedang  darurat, dan direspon oleh anaknya yang mengatakan: “janganmi telepon-telepon mamaku, karena mau tidur, tidak pernah tidur”. Juga saat driver pribadi dokter mengatakan untuk harus mengantar dan menemani sang dokter dari pagi ke pagi, dari rumah sakit A ke rumah sakit B hanya demi pasien. Dan saat perawat/bidan harus melek jam berapapun untuk selalu siap dengan panggilan “Sus, habis infusnya”.

Foto ini diambil dari instagram @rsiaananda

Kerja keras tenaga non medis rumah sakit juga tidak main-main. Saya sendiri diamanahkan sebagai petugas gizi, dimana partner kerja saya juga rata-rata adalah perempuan, dari koki (juru masak), steward sampai server (petugas pengantar makanan). Mereka bahkan harus beraktivitas sejak subuh, dari masak sampai menyajikan makanan-makanan ke kamar-kamar pasien. Tak sampai disitu, apresiasi juga harus diberikan kepada petugas office dan manajemen yang kadang-kadang harus sering lembur, sampai cleaning service & security perempuan dengan kerja keras ototnya. Jadi bagaimana tidak saya menyebut tempat ini adalah lingkungan perempuan hebat?!

Ada satu nasihat yang masih saya ingat, yang pernah disampaikan oleh salah satu dokter saat beliau selesai melakukan visite pasien, yang kurang lebih seperti ini: bekerja di tempat ini bagi kita-kita perempuan itu tidak sekedar karena uang/gaji. Tapi sebisa mungkin bisa menjadi ladang amal jariyahnya kita karena akan bertemu dengan pribadi yang berbeda-beda setiap harinya. Dan paling tidak ilmunya bisa untuk diri kita sendiri dulu baru bisa kita manfaatkan untuk orang lain. Saya pun berkesimpulan, bahwa statement beliau itu bukan hanya untuk kami-kami (pekerja-pekerja) di rumah sakit saja, tapi juga untuk semua perempuan yang mengabdi pada bidang dan lingkungannya masing-masing, bahkan yang hanya ‘di’ dan ‘untuk’ keluarganya. 

Terimakasih Ibu Kartini, untuk warisan semangatnya pada kami. Untuk selalu semangat memperjuangkan hak dan menunaikan kewajiban sebagai ‘kartini’ masa kini. Selamat hari perempuan Indonesia!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profesi VS Reguler (hastagKKN)

DAN sumber kegalauan terbesar saat ini, adalah KKN. masih bingung untuk memantapkan hati memilih regular atau profesi ?? insya Allah hasil jajak pendapat dan survey kecil-kecilan ini bisa mengobati perasaan dilematis teman-teman. semoga bermanfaat :))))))))

kakak, minta pendapat ta boleh ?? haha. bagaimana menurut ta ttg KKN reguler dan profesi ?? dan dulu memilih yg mana ?? minta tolong komentar ta', terima kasih banyak
kak uphy – mahasiswi ekonomi unhas: kalau saya regular. seruuuu karena banyak fakultas. kalau profesi kan cuman untuk kesehatan hehe
kak dachan – sarjana kesehatan masyarakat: kalau profesi enak karena banyak teman dari FKM, ada juga yang diajak kerjasama. kalau regular kerja laporannya setengah mati. persamaannya sama-sama punya banyak teman :)
kak udha – mahasiswa teknik arsitek unhas: bagus dua-duanya tapi saya lebih pilih regular. karena punya kenalan baru dengan karakter berbeda-beda apalagi banyak ilmu didapat karena banyak dari jurusan lain. dibandingkan profes…

(mungkin) saya orang arab :D

hahahihihuhuhehehoho~
yang tadi bukan sekali orang-orang mengira-ku keturunan Arab ahahahaha. bu dosen tadi mengira-nya (mungkin) dari nama lengkap ku yang agak ke-arab-an. dan dilihat dari raut wajah pun yang manis dan rupawan, mungkin sih, NGEKS. hidung saya cukup mancung, alis saya cukup tebal, bulu mata saya cukup lentik, mata saya bulat, dan cukup hijab style. ehehehe duarrrrrr :D

memang, dari kecil saya punya sahabat yang keturunan arab. kami selalu bersama-sama, bahkan pernah ada yang kira kami keluarga. sekarang, saya pun punya sahabat yang juga sering bersama, dia pun orang arab, dan saya pernah disangka sepupu oleh keluarganya cpcpcpcp ehehehe. ada lagi, bapak tukang bentorrrr. yang memulai percakapan singkatnya dengan pertanyaan khas logat Makassar, "orang Arab ki dek ?? || yeeee ?? tidak ji juga pak ehehehe || tapi muka' ta kayak orang arab, tapi kita kecil ki' coba besar-besarki' ?? ahahahaha ||*nah loh -_-
sebenarnya, saya lahir di Makassar. tapi orang tua …

Single = Happy ?!

“Mereka bilang sudah saatnya karena usia. Untuk mencari sang kekasih hati. Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku. Pada waktu dan cara yang indah” – Opie Andaresta
Maaf tulisan ini mungkin agak sedikit kebawa perasaan tapi semoga bisa mewakilkan sebagian besar isi hati dan unek-unek tak tersampaikan khususnya bagi perempuan-perempuan.

Saya kelahiran 92, usia sudah seperempat abad. Jujur sampai saat ini saya masih sangat santai jika ditanya soal pasangan, di antara banyak teman-teman seumuran yang sudah menikah bahkan sudah punya anak. Merasa masih sangat muda dan nyaman membuat saya juga merasa baik-baik saja. Karena sikap baik-baik-saja saya ini tidak jarang mengundang kecemasan dan tanda tanya dari keluarga, sahabat sampai rekan kerja. Dan sebenarnya kondisi ini sudah warning juga bagi perempuan-perempuan yang ‘berkepala dua’.
Sentilan pertanyaan dan pernyataan yang menggalaukan juga menyayat hati tidak jarang jadi makanan sehari-hari. Misalnya, saya cukup on sosmed dan cukup sering …