Langsung ke konten utama

Tujuh-Belas Agustus: Saya Rindu Puisi

Selamat datang Agustus! Yang euforinya mulai saya rasakan, dan bagi sebagian orang juga ikut merayakan. Tidak terasa menghitung hari tanggal 17. Bendera sudah berkibar di sepanjang jalan dan lorong perumahan, juga tak ketinggalan persiapan pesta rakyat yang diusung-usung akan meriah. Tanggal merah satu-satunya di weekdays untuk bulan ini bukan hanya disambut gembira oleh anak-anak sekolahan, tapi juga oleh para pekerja kantoran karena kami bisa dapat jatah libur seharian.

Sensasi 17an tiap tahun bagi saya pribadi berbeda, beda zaman maka beda prioritas. Singkat cerita, waktu masih masa-masa sekolahan, saya adalah salah satu orang/siswa yang aktif mengikuti perlombaan. Karena di bidang olahraga saya payah, jadi saya melirik lomba-lomba di bidang seni, terutama dan utama yang tidak pernah absen adalah: ikut lomba puisi (re: lomba baca bukan buat puisi). Puisi-puisi yang pernah sering saya bawakan adalah puisi karangan penyair-penyair yang saya temukan hasil googling di internet dan di beberapa buku pelajaran sekolah kala itu. Prestasinya? Alhamdulillah kalau tidak juara satu, jadi runnerup, atau masuk tiga besar. Bonusnya? Dapat hadiah, jadi bahan berita di koran, plus dibanggakan satu kelas.

Sayangnya semenjak kuliah sampai sekarang kerja, ikut lomba puisi (lagi) sudah sangat tidak pernah. Jika ditanya bagaimana cara membawakan puisi dengan benar, jawabannya: saya lupa. Jika diminta untuk kembali membacakan puisi, maka mungkin saja saya akan sangat grogi. Tidak ‘mencicipi’ puisi selama bertahun-tahun bukan berarti saya tidak suka (lagi) dengan puisi. Tapi hanya saja selera saya sudah berbeda, dari gemar mengoleksi puisi tentang pahlawan dan sekarang jatuh cinta ke genre puisi yang lebih puitis nan romantis. Jadi mana mungkin saya begitu saja melupakan ‘kenangan puisi’ yang sudah saya simpan sejak tahun 2003? Apalagi saya tipikal orang yang susah move on soalnya.

Saya sangat senang tahun ini ada adik-adik pemuda-pemudi di kompleks perumahan yg mau menghidupkan kembali suasana 17an, yang sempat vakum beberapa tahun. I’ve appreciated it. Jika saya masih dikasih kesempatan, saya masih ingin sekali berpartisipasi. Tapi karena sadar umur, jadi peserta (lagi) sudah sangat tidak mungkin, maka jadi penonton saja mungkin akan cukup. 

Sederhana-nya, hakikat merdeka sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri: be my self, be our self. Kalau kita punya passion di bidang puisi misalnya atau di bidang lain, must do it! And got it! Tidak perlu menjadi orang lain tapi tidak masalah jika ingin menjadikan orang lain sebagai role-model. Poin pentingnya tetap positif, nyaman dan bahagia. Karena apa yang kita lakukan akan jadi cerita, akan jadi kisah, akan dikenang dan akan dirindukan. Seperti saya pada puisi. 

170817, tanggal-bulan “cantik” kesekian kalinya di tahun ini. Selamat bersukacita buat yang merasakan dan merayakan. Adakah yang mau menghadiahkan saya puisi ? :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profesi VS Reguler (hastagKKN)

DAN sumber kegalauan terbesar saat ini, adalah KKN. masih bingung untuk memantapkan hati memilih regular atau profesi ?? insya Allah hasil jajak pendapat dan survey kecil-kecilan ini bisa mengobati perasaan dilematis teman-teman. semoga bermanfaat :))))))))

kakak, minta pendapat ta boleh ?? haha. bagaimana menurut ta ttg KKN reguler dan profesi ?? dan dulu memilih yg mana ?? minta tolong komentar ta', terima kasih banyak
kak uphy – mahasiswi ekonomi unhas: kalau saya regular. seruuuu karena banyak fakultas. kalau profesi kan cuman untuk kesehatan hehe
kak dachan – sarjana kesehatan masyarakat: kalau profesi enak karena banyak teman dari FKM, ada juga yang diajak kerjasama. kalau regular kerja laporannya setengah mati. persamaannya sama-sama punya banyak teman :)
kak udha – mahasiswa teknik arsitek unhas: bagus dua-duanya tapi saya lebih pilih regular. karena punya kenalan baru dengan karakter berbeda-beda apalagi banyak ilmu didapat karena banyak dari jurusan lain. dibandingkan profes…

(mungkin) saya orang arab :D

hahahihihuhuhehehoho~
yang tadi bukan sekali orang-orang mengira-ku keturunan Arab ahahahaha. bu dosen tadi mengira-nya (mungkin) dari nama lengkap ku yang agak ke-arab-an. dan dilihat dari raut wajah pun yang manis dan rupawan, mungkin sih, NGEKS. hidung saya cukup mancung, alis saya cukup tebal, bulu mata saya cukup lentik, mata saya bulat, dan cukup hijab style. ehehehe duarrrrrr :D

memang, dari kecil saya punya sahabat yang keturunan arab. kami selalu bersama-sama, bahkan pernah ada yang kira kami keluarga. sekarang, saya pun punya sahabat yang juga sering bersama, dia pun orang arab, dan saya pernah disangka sepupu oleh keluarganya cpcpcpcp ehehehe. ada lagi, bapak tukang bentorrrr. yang memulai percakapan singkatnya dengan pertanyaan khas logat Makassar, "orang Arab ki dek ?? || yeeee ?? tidak ji juga pak ehehehe || tapi muka' ta kayak orang arab, tapi kita kecil ki' coba besar-besarki' ?? ahahahaha ||*nah loh -_-
sebenarnya, saya lahir di Makassar. tapi orang tua …

Single = Happy ?!

“Mereka bilang sudah saatnya karena usia. Untuk mencari sang kekasih hati. Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku. Pada waktu dan cara yang indah” – Opie Andaresta
Maaf tulisan ini mungkin agak sedikit kebawa perasaan tapi semoga bisa mewakilkan sebagian besar isi hati dan unek-unek tak tersampaikan khususnya bagi perempuan-perempuan.

Saya kelahiran 92, usia sudah seperempat abad. Jujur sampai saat ini saya masih sangat santai jika ditanya soal pasangan, di antara banyak teman-teman seumuran yang sudah menikah bahkan sudah punya anak. Merasa masih sangat muda dan nyaman membuat saya juga merasa baik-baik saja. Karena sikap baik-baik-saja saya ini tidak jarang mengundang kecemasan dan tanda tanya dari keluarga, sahabat sampai rekan kerja. Dan sebenarnya kondisi ini sudah warning juga bagi perempuan-perempuan yang ‘berkepala dua’.
Sentilan pertanyaan dan pernyataan yang menggalaukan juga menyayat hati tidak jarang jadi makanan sehari-hari. Misalnya, saya cukup on sosmed dan cukup sering …